“ CINTA MONIK”
KETIKA DESA KETEMU KOTA
Pemandangan pagi sangat indah ketika burung-burung pipit
kecil terbang rendah, mencuri buliran padi membelah kabut tipis yang masih
enggan pergi. Embun menghiasi dahan-dahan hijau berkilau memantulkan cahaya
mentari yang mulai merekah di ufuk.
“ Masih dingin ya kang!” sapa Monik, gadis berdarah
campuran pada saudara sepupunya, Ilham yang penduduk asli desa di pinggiran kota Bantul itu.
Ilham tipikal khas Jawa, berkulit hitam manis dengan
sorot mata yang berwibawa. “ Tadi enggak bawa jaket!”
“ Masa ke sawah pake jaket, bisa diketawain orang aku
ntar, jawab Monik yang berjalan sangat pelan menyusuri pematang sawah. “ Licin
banget.”
“ Padahal dulu kamu kan seneng main kesawah, apalagi pas ada
yang mau mbajak sawah, kamu pasti minta ke mbah kakung naik kerbau pembajak. “
Monik tertawa terkekeh. “ O iya, sampai aku agak besar kan dulu masih kepingin
naik kerbau ya, ingat nggak kang, pernah kerbaunya nggak mau berdiri karena
keberatan aku naikin.”
Ilham ikut ketawa. “ Iyalah kamu kan anak kecil tapi bongsor, mana kerbaunya
kuat kamu naikin, yang bener kerbaunya naik kamu…”
“ Ah asem ki,” Monik langsung menendang Ilham yang
berjalan didepannya sampai terpeleset kecemplung ke sawah, untung nggak sampai
klekaran.
“ Monik, kurang ajar kamu…”
Gantian Monik yang tertawa keras. “ Sory bro!”
Sampai di dangau sudah ada mbah putri yang baru saja
memetik kacang panjang dan terong ungu.
“ Morning grand ma!” sapa Monik yang langsung mencium
tangan simbahnya tersayang.
“ Marning-marning opo to,” simbah putrinya geleng-geleng
nggak ngerti omongan Monik. “ Wis
sholat subuh to nduk?”
“ Jelas mbah, don’t worry lah, masak sayur lodeh po mbah,
karo goreng tempe
ya!”
“ Ho o, kowe nek seneng lodeh to.”
“ Simbah ki ratau lali kesenengane Monik je,” Ilham ikut
komentar. “ Opo maneh yen Teddy dhene,mesti di sambelke terong yo mbah.”
Simbahnya tersenyum senang melihat cucunya akur semua. “
Teddy ora tok jak mrene?”
Monik geleng-geleng, “ Aku nggak ngerti kok Dudung itu
pergi kemana, wis
2 hari nggak pulang kok mbah.” Begitulah Monik menyebut nama kakaknya.
“ Nggak pamit to kamu?” Tanya Ilham.
Monik geleng-geleng, “ Di rumah juga ada Munah, lagian
mau pamit ma siapa sih, Dudung juga kalau pergi nggak pernah pamit kok.”
Sebelum simbahnya mulai memberikan wejangan tentang
kelakuan cucunya, dari arah jalan desa tampak sesosok cewek bule yang
melambaikan tangan ke arah mereka.
“ Sopo kang?”
Ilham tersenyum tersipu-sipu, “ Kecenganku Mon.” kemudian
Ilham menghampiri cewek itu dan menggandengnya menyusuri pematang.
“ Kenalin namanya Laura, anak pertukaran pelajar dari Australia.”
Monik menjabat tangan kecil itu. “ Monik Saraswati.”
“ Laura Kiessler.”
“ Simbah sudah kenal?” Tanya Monik penasaran.
“ Wis
nduk, rong dino yo Il.”
Monik manggut-manggut, rupanya sudah 2 hari ini Laura
selalu muncul di desa. “ Able to speak Indonesia?”
Laura tersenyum kecil, “ Litlle bit, di sekolah ada
pelajaran bahasa Indonesia.”
Jawabnya dengan suara sengau.
“ Laura ini sedang penelitian tentang hama tanaman, jadi sering kemari, kemarin juga
nginap di rumah simbah ya!” Kata Ilham sambil melirik mbah putri.
Simbah tidak bereaksi, “ Aku bali sik wae, mengko ndak ra
sido nyayur.” Kemudian simbah segera berjalan menjauh. Biasanya simbah selalu
ramah sama orang, tapi sekarang beliau seperti tidak mau ikut campur.
“ Look at that, beautiful bird.” Komentar Laura yang
langsung berlari kecil mengejar burung-burung pipit dan blekok di pinggiran
sawah.
“ Kok iso kenal kang?” Monik segera bertanya saat Laura
agak menjauh.
“ Sebenarnya kenal di kampus, trus aku yang nyariin bahan
penelitiannya sekaligus menyarankan agar dia PKL nya di sini aja, biar aku bisa
ngrewangi to.”
“ Iya sekaligus pdkt kan.” Monik menggoda sepupunya.
“ Ah, iso wae koe ki.”
“ Trus komentar ibukmu piye mas, wis tok kenalke?”
Ilham sedikit lesu, “ Itulah masalah umum yang terjadi
Mon, barat ketemu timur jare bedo adat, bedo tradisi, bedo agama, susah
njelaskene ro wong tuwo.”
“ Emang kang Ilham serius sama Laura?”
“ Aku memang kenal Laura baru 1 bulan, rasane aku yo
seneng, aku juga sering diskusi dan salah satunya membahas perbedaan-perbedaan
itu. Laura sendiri cukup terbuka sama budaya kita. Tapi waktu aku bicara sama
ibu kok sepertinya ibu ra seneng malah marah-marah, padahal aku dah ngambil
contoh seperti bapakmu yang nikah sama orang Irlandia nyatanya bahagia punya
anak-anak yang baik kayak kamu ro Teddy, tapi ibu semakin marah.”
Monik manyun. “ Wah itu memang perkara sulit, antara
cinta dan keluarga karya Ilham Agung!” lantang Monik mengucapkannya seperti
membacakan judul puisi.
Ilham langsung mencoba menendang Monik, tapi Monik sudah
bersiap lari. Akhirnya Monik benar-benar dikejar Ilham yang sudah menggandeng
Laura kembali menuju ke rumah simbah.
************
Malam harinya, semua berkumpul di ruang keluarga. Ada mbah kakung dan putri, Ilham, Monik, Aning adik Ilham,
Asti, Ambar,
Andi dan Eka yang saudara sepupu semua. anak pakde dan paklik. Rumah simbah yang khas Jawa itu memang
beruang lega dan luas. Perabotannya yang dari kayu tidak terlalu banyak
memenuhi ruangan. Cuma meja yang sangat besar dengan kursi panjang, buffet dan
sebuah televisi 14 inch diatasnya. Itu adalah ruang yang sangat nyaman untuk
mengobrol, sambil ngemil jagung bakar buatan saudara-saudara sepupu Monik.
Mereka membahas apa saja, dan hot gossip nya ya tentang
Ilham memacari cewek bule.
“ Enak ra kang pacaran ro bule?” Tanya Andi yang masih
SMU. “ Aku yo pengen pacaran ro bule ah.”
“ Podo wae kok,” jawab Ilham.
“ Nek bule ntar banyak kendala lho, apalagi biasanya
egois orangnya,” komentar Monik.
“ Ah, mbak Monik ki piye to, lha bundane mbak kan bule juga, mbak Monik kan
juga bule ning gosong,” ledek Asti
yang disambut tawa oleh yang lain.
Monik sendiri baru sadar kalau dia juga indo. Dia memang
kadang tidak menyadarinya. Mungkin karena dia sendiri jarang ketemu bundanya
dan walaupun badannya bongsor tapi wajahnya mirip ayahnya yang berkulit coklat,
hidungnya juga tidak terlalu mancung. Akhirnya Monik ikut ketawa,” Bunda itu
juga agak egois, tapi ayah yang banyak ngemong, tanya saja sama simbah susahnya
punya mantu bule.”
Simbahnya cuma saling memandang, mungkin bagi mereka
punya menantu bule punya suatu cerita tersendiri. Apalagi kisah ayah dengan
bundanya sangat rumit, mirip kisah sinetron.
“ Bapakmu pancen ngeyel nek dikandani, yo wis piye maneh to,”
jawab mbah Kakung.
“ Berarti simbah dulu nggak merestui mereka ya, bayangkan
seandainya dulu ayah tidak ngeyel trus nggak ketemu bunda, wah simbah nggak
bakal punya cucu secantik aku kan!”
bela Monik. Ilham langsung melempar bonggol jagung kearah Monik.
“ Ke pede an banget deh.”
Yang lain juga langsung ketawa mendengar omongan Monik. “
Dasar mbak Monik sableng.”
Lagi asyik-asyiknya bercanda dari arah pintu muncul Laura
dengan wajah lelahnya. “ Hi everybody,” sapanya.
“You’re so late, capek?” Tanya kang Ilham yang perhatian
banget.
Laura duduk di samping Ilham dan langsung menyandarkan
kepalanya di bahu Ilham. “ Yeah, I’m so tired today. Tapi sebentar lagi aku selesai dengan laporan penelitian
ini.”
Melihat kemesraan Ilham dan Laura mbah putri langsung
geleng-geleng kepala. “ Wis
nek kesel yo gek ndang istirahat, Ning diterke neng kamare kono!” suruh mbah
putri ke Aning yang langsung mengajak Laura masuk ke kamar yang sudah
disiapkan.
Begitu Aning kembali ke ruang keluarga, di belakangnya
sudah ada Teddy dengan raut muka jengkel.
“ Dasar, kalau mau pergi pamit dulu kek, bikin orang
senewen,” maki Teddy ke Monik.
“ Ah, kamu aja pergi nggak ngasih tahu aku kok, lagian
ngapain sih pake nyusul segala,” Monik balik ngeles.
“ Tuh kan mbah, Monik itu ngeyel kalau di kasih tahu.” Teddy mengadu ke simbah.
“ Wis to ra sah ribut, wis wengi, Monik ki yen
arep lungo yo pamitan kakangmu sik, ben ora khawatir,” mbah kakung memberikan
wejangannya.
“ Lha kowe dhewe seko endhi le?’’ Tanya mbah putri kepada Teddy.
Teddy menguap. “ Ada proyek di Bandung mbah,
aku wis
ngantuk iki, aku turu yo mbah,” Teddy pamit dengan cara yang tidak sopan tapi
semua juga maklum kalau Teddy tidak biasa bahasa Jawa halus. Sudah gitu Monik
juga ikut digandengnya.
“ Tidur ma aku ya Mon.”
“ Dasar manja,” bentak Monik ke kakaknya tapi tetap saja
Monik mengikuti langkah Teddy yang lebar-lebar.
Kamar yang dipakai Teddy dan Monik dulu bekas kamar ayah
mereka. Ada 2
tempat tidur kecil, sebuah almari kayu, buffet kecil yang entah berisi apa dan
beberapa foto ayah mereka saat masih sekolah terpajang di dinding.
Tedy langsung rebah di kasur. “ Gila aku capek banget,
dari Bandung
langsung ke sini,” keluh Teddy. “ Eh, tadi waktu nyampe aku lihat cewek bule
sipa sih Mon?” tanyanya mengganti pembicaraan.
Monik duduk memeluk bantal di tempat tidur satunya lagi.
“ Namanya Laura, anak Aussie pertukaran pelajar, itu gebetan kang Ilham, tapi
katanya nggak boleh tuh ma budhe.”
“ Pinter juga Ilham itu,” komentar Teddy. “ Tapi berat
tuh perjuangannya kalau mau dapetin bule.”
“ Emang kenapa Dung? Seandainya Laura mau mengikuti adat
Jawa pasti sama budhe direstui, cuma masalah pendekatan aja to.”
“ Nggak semudah itu Mon, kamu tahu nggak sih siapa budhe
itu?”
“ Ibukknya kang Ilham.” Jawab Monik polos.
Teddy langsung melempar bantal kearah Monik. “ Ye.. kalau
itu juga semua tahu.”
“ Ya habis nanya kok aneh.”
“ Kamu pasti nggak tahu kan kalau dulu sebenarnya budhe itu
rencananya mau dikawinkan sama ayah.”
“ Ha???” Monik setengah menjerit. “ Kok aku baru tahu,
gimana ceritanya Dung?”
“ Dulu, ayah ma budhe itu satu sekolah, kemana-mana
bersama-sama, trus budhe suka sama ayah. Tapi kan kamu tahu kalau ayah itu punya jiwa
seni, dia ingin mengejar mimpinya lewat melukis. Sejak lulus sekolah ayah
langsung ke Bali belajar melukis sekaligus
mencari kerjaan. Pernah ayah disuruh pulang, dan ternyata mbah kakung itu mau
menjodohkan ayah sama budhe karena orang tua budhe sudah kepingin punya cucu.
Jelas aja ayah yang waktu itu lagi seneng-senengnya kerja nggak mau menikah
dulu, apalagi ayah cuma menganggap budhe itu seperti adiknya sendiri. Sempat
ayah diusir sama mbah kakung, trus akhirnya ayah ikut kapal perusahaan asing
sampai akhirnya ketemu bunda di Dublin.”
“ Lha trus gimana akhirnya budhe?”
“ Mbah kakung kan
jelas nggak enak sama keluarga budhe, trus simbah bicara sama pakdhe Ulin mau
nggak menikahi budhe, akhirnya nggak tahu juga ceritanya kok pakdhe Ulin mau
menikah sama budhe. Mungkin pada dasarnya pakdhe punya rasa juga.”
Monik geleng-geleng. “ Wah, jangan-jangan budhe masih
menyimpan rasa sakit hati ya Dung, tapi budhe baik kok kalau sama aku.”
“ Iya, dulu aja simbah nggak mau mengakui pernikahan ayah
sama bunda, baru setelah kamu lahir, melihat ternyata cucunya ada yang berwajah
Jawa, akhirnya simbah mulai mencair marahnya. Itulah makanya kamu patut
bersyukur kalau kulitmu itu gosong, jangan iri sama aku.” Puji Teddy pada
dirinya sendiri. “ Budhe pasti juga merasakan hal yang sama, patah hati pasti
jadi bukan hal yang mudah membuat budhe bisa menerima mantu bule.”
Monik mendengarkan dengan serius. “ Karena aku keponakan
budhe yang Njawani, kali aku bisa deh bicara sama budhe.”
Teddy merebahkan tubuhnya. “ Ya terserah kamu, dah ah aku
ngantuk banget, besok aku masih ada kerjaan.” Dengan cuek Teddy langsung
ngorok. Ah dasar.
**************
Hari sudah menjelang siang ketika Monik, Ilham dan Teddy
berkumpul di Langgar dekat rumah simbah. Masih membicarakan hubungan Ilham dengan Laura.
“ Tadi aku sempat
ketemu ma budhe kang, mungkin perasaan semua orang tua itu hampir sama, ingin
yang terbaik untuk anak-anaknya. “ Monik mencoba merangkum dari percakapannya
dengan budhe tadi pagi.
“ Jadi baikknya gimana ya?” Ilham masih tetap pusing.
“ Heh, dengerin aku nih. Selesaiin dulu kuliah mu yang
tinggal skripsi itu. Klo dah gitu kamu kerja nyari duit yang banyak, bahagiain
dulu orang tua kamu. Yakin deh habis itu kamu mau ngawinin cewek mana juga
boleh.” Teddy bicara seenaknya aja, tapi mungkin sebagian ada yang benar.
“ Dudung ada benarnya, mending kang Ilham namatin kuliah
dulu. Kang Ilham kan
masih muda, masih banyak hal yang kang Ilham harus lalui. Seiring waktu, asal
kang Ilham berusaha semoga hati budhe mencair juga. Bisa jadi kan nanti kang Ilham bertemu lagi dengan
gadis yang lebih cantik, lebih baik, lebih segalanya deh.” Sambung Monik.
Ilham manggut-manggut. “ Mungkin kalian ada benarnya,
sebaiknya aku menjalani semua ini bersama Laura dengan lebih santai. Seandainya
dia memang jodohku aku yakin kita bisa bersama. Aku juga ingin buktikan ke Ibu
kalau aku bisa jadi orang yang bertanggung jawab pada orang tuaku juga pada
keluargaku kelak.”
“ Syukur deh kalau kang Ilham merasa itu yang terbaik.”
Monik menepuk pundak sepupunya itu.
Teddy melompat berdiri. “ Mulane kuliah dirampungke,
skripsi aja 4 semester nggak selesai-selesai, payah.” Dia langsung ngeloyor
masuk ke rumah.
Ilham cengengesan. “ Iyo yo, aku ni kerjaan ya cuma
kuliah tapi nggak kelar-kelar, tapi Teddy itu kuliah disambi nerima proyek disambi
maen kemana-mana kok langsung wisuda ya.”
“ Itu karena dia mesti ngidupin aku kang. Jadi
semangatnya dobel kuliah jalan, cari duit buat makan oke, hobby traveling lancar.”
Monik memang bersyukur karena Kakaknya sangat bertanggung jawab. Walau setiap bulan
uang saku selalu dikirim oleh orang tuanya, tapi Dudung tetap cari uang sendiri buat keperluan
mereka bersama. Lumayan bisa buat beli tanah, mobil ma investas lain.
“ Eh Mon, kamu balik Jogja sekarang kan?” aku ikut sekalian ya, kebetulan Laura
juga ada perlu dikampus. Aku nginap rumahmu aja ya, mau ngetik lanjutan
skripsiku.”
Monik tersenyum senang, “ Oke, sana siap-siap, aku juga mau pamitan ma
simbah.”
************
Sore harinya
mereka sudah sampai di rumah mereka berdua di Kaliurang, sebelumnya Laura sudah diantar ke asrama. Tinggal Monik
sama Ilham memakai mobil Wrangler disusul Teddy yang memakai motor Ducati supermoto nya.
“ Munah, are you miss me!” teriak Monik didepan pintu memanggil
pembantu kesayangannya.
Munah langsung menyambut Monik. “ Mbak lihat siapa yang
datang.”
Dari dalam rumah
muncul si hitam manis dan si cantik. Itulah ayah dan bunda Monik dan Teddy yang mendadak datang mengunjungi.
“ Hi honey,” sapa bundanya.
Monik langsung mendekap bundanya. “ Uh, I miss u so much
mom.” Keningnya langsung dihujani ciuman dari bundanya. “ Kapan datang?”
“ Tadi pagi. Nggak kangen ma ayah!”
Monik pun langsung bergelanyut manja pada ayahnya.
“ Mirip anak kera tahu.” Ejek Teddy.
“ Nggak apa, berarti kakakku juga kera dong,” Monik
langsung cengengesan. Semua pun akhirnya ketawa.
Dalam hati Ilham juga ingin suatu saat nanti jika Laura
memang jodohnya, semoga keluarganya sebahagia keluarga sepupunya ini. Walau
kadang terpisah jarak tapi mereka tetap akrab seperti keluarga, seperti saudara
dan seperti sahabat. Semua dalam satu rengkuhan.
“ Ilham sini masuk,” sambuat bunda Monik.
“ Ya tante.”
Ah, rumah yang hangat.
THE END
DITULIS OLEH RINA RINOT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar