Senin, 16 April 2012

CERITA CINTA MONIK SARASWATI


“ CINTA MONIK”

KETIKA DESA KETEMU KOTA

Pemandangan pagi sangat indah ketika burung-burung pipit kecil terbang rendah, mencuri buliran padi membelah kabut tipis yang masih enggan pergi. Embun menghiasi dahan-dahan hijau berkilau memantulkan cahaya mentari yang mulai merekah di ufuk.
“ Masih dingin ya kang!” sapa Monik, gadis berdarah campuran pada saudara sepupunya, Ilham yang penduduk asli desa di pinggiran kota Bantul itu.
Ilham tipikal khas Jawa, berkulit hitam manis dengan sorot mata yang berwibawa. “ Tadi enggak bawa jaket!”
“ Masa ke sawah pake jaket, bisa diketawain orang aku ntar, jawab Monik yang berjalan sangat pelan menyusuri pematang sawah. “ Licin banget.”
“ Padahal dulu kamu kan seneng main kesawah, apalagi pas ada yang mau mbajak sawah, kamu pasti minta ke mbah kakung naik kerbau pembajak. “
Monik tertawa terkekeh. “ O iya, sampai aku agak besar kan dulu masih kepingin naik kerbau ya, ingat nggak kang, pernah kerbaunya nggak mau berdiri karena keberatan aku naikin.”
Ilham ikut ketawa. “ Iyalah kamu kan anak kecil tapi bongsor, mana kerbaunya kuat kamu naikin, yang bener kerbaunya naik kamu…”
“ Ah asem ki,” Monik langsung menendang Ilham yang berjalan didepannya sampai terpeleset kecemplung ke sawah, untung nggak sampai klekaran.
“ Monik, kurang ajar kamu…”
Gantian Monik yang tertawa keras. “ Sory bro!”
Sampai di dangau sudah ada mbah putri yang baru saja memetik kacang panjang dan terong ungu.
“ Morning grand ma!” sapa Monik yang langsung mencium tangan simbahnya tersayang.
“ Marning-marning opo to,” simbah putrinya geleng-geleng nggak ngerti omongan Monik. “ Wis sholat subuh to nduk?”
“ Jelas mbah, don’t worry lah, masak sayur lodeh po mbah, karo goreng tempe ya!”
“ Ho o, kowe nek seneng lodeh to.”
“ Simbah ki ratau lali kesenengane Monik je,” Ilham ikut komentar. “ Opo maneh yen Teddy dhene,mesti di sambelke terong yo mbah.”
Simbahnya tersenyum senang melihat cucunya akur semua. “ Teddy ora tok jak mrene?”
Monik geleng-geleng, “ Aku nggak ngerti kok Dudung itu pergi kemana, wis 2 hari nggak pulang kok mbah.” Begitulah Monik menyebut nama kakaknya.
“ Nggak pamit to kamu?” Tanya Ilham.
Monik geleng-geleng, “ Di rumah juga ada Munah, lagian mau pamit ma siapa sih, Dudung juga kalau pergi nggak pernah pamit kok.”
Sebelum simbahnya mulai memberikan wejangan tentang kelakuan cucunya, dari arah jalan desa tampak sesosok cewek bule yang melambaikan tangan ke arah mereka.
“ Sopo kang?”
Ilham tersenyum tersipu-sipu, “ Kecenganku Mon.” kemudian Ilham menghampiri cewek itu dan menggandengnya menyusuri pematang.
“ Kenalin namanya Laura, anak pertukaran pelajar dari Australia.”
Monik menjabat tangan kecil itu. “ Monik Saraswati.”
“ Laura Kiessler.”
“ Simbah sudah kenal?” Tanya Monik penasaran.
“ Wis nduk, rong dino yo Il.”
Monik manggut-manggut, rupanya sudah 2 hari ini Laura selalu muncul di desa. “ Able to speak Indonesia?”
Laura tersenyum kecil, “ Litlle bit, di sekolah ada pelajaran bahasa Indonesia.” Jawabnya dengan suara sengau.
“ Laura ini sedang penelitian tentang hama tanaman, jadi sering kemari, kemarin juga nginap di rumah simbah ya!” Kata Ilham sambil melirik mbah putri.
Simbah tidak bereaksi, “ Aku bali sik wae, mengko ndak ra sido nyayur.” Kemudian simbah segera berjalan menjauh. Biasanya simbah selalu ramah sama orang, tapi sekarang beliau seperti tidak mau ikut campur.
“ Look at that, beautiful bird.” Komentar Laura yang langsung berlari kecil mengejar burung-burung pipit dan blekok di pinggiran sawah.
“ Kok iso kenal kang?” Monik segera bertanya saat Laura agak menjauh.
“ Sebenarnya kenal di kampus, trus aku yang nyariin bahan penelitiannya sekaligus menyarankan agar dia PKL nya di sini aja, biar aku bisa ngrewangi to.”
“ Iya sekaligus pdkt kan.” Monik menggoda sepupunya.
“ Ah, iso wae koe ki.”
“ Trus komentar ibukmu piye mas, wis tok kenalke?”
Ilham sedikit lesu, “ Itulah masalah umum yang terjadi Mon, barat ketemu timur jare bedo adat, bedo tradisi, bedo agama, susah njelaskene ro wong tuwo.”
“ Emang kang Ilham serius sama Laura?”
“ Aku memang kenal Laura baru 1 bulan, rasane aku yo seneng, aku juga sering diskusi dan salah satunya membahas perbedaan-perbedaan itu. Laura sendiri cukup terbuka sama budaya kita. Tapi waktu aku bicara sama ibu kok sepertinya ibu ra seneng malah marah-marah, padahal aku dah ngambil contoh seperti bapakmu yang nikah sama orang Irlandia nyatanya bahagia punya anak-anak yang baik kayak kamu ro Teddy, tapi ibu semakin marah.”
Monik manyun. “ Wah itu memang perkara sulit, antara cinta dan keluarga karya Ilham Agung!” lantang Monik mengucapkannya seperti membacakan judul puisi.
Ilham langsung mencoba menendang Monik, tapi Monik sudah bersiap lari. Akhirnya Monik benar-benar dikejar Ilham yang sudah menggandeng Laura kembali menuju ke rumah simbah.
************

Malam harinya, semua berkumpul di ruang keluarga. Ada mbah kakung dan putri, Ilham, Monik, Aning adik Ilham, Asti, Ambar, Andi dan Eka yang saudara sepupu semua. anak pakde  dan paklik. Rumah simbah yang khas Jawa itu memang beruang lega dan luas. Perabotannya yang dari kayu tidak terlalu banyak memenuhi ruangan. Cuma meja yang sangat besar dengan kursi panjang, buffet dan sebuah televisi 14 inch diatasnya. Itu adalah ruang yang sangat nyaman untuk mengobrol, sambil ngemil jagung bakar buatan saudara-saudara sepupu Monik.
Mereka membahas apa saja, dan hot gossip nya ya tentang Ilham memacari cewek bule.
“ Enak ra kang pacaran ro bule?” Tanya Andi yang masih SMU. “ Aku yo pengen pacaran ro bule ah.”
“ Podo wae kok,” jawab Ilham.
“ Nek bule ntar banyak kendala lho, apalagi biasanya egois orangnya,” komentar Monik.
“ Ah, mbak Monik ki piye to, lha bundane mbak kan bule juga, mbak Monik kan juga bule ning gosong,” ledek Asti yang disambut tawa oleh yang lain.
Monik sendiri baru sadar kalau dia juga indo. Dia memang kadang tidak menyadarinya. Mungkin karena dia sendiri jarang ketemu bundanya dan walaupun badannya bongsor tapi wajahnya mirip ayahnya yang berkulit coklat, hidungnya juga tidak terlalu mancung. Akhirnya Monik ikut ketawa,” Bunda itu juga agak egois, tapi ayah yang banyak ngemong, tanya saja sama simbah susahnya punya mantu bule.”
Simbahnya cuma saling memandang, mungkin bagi mereka punya menantu bule punya suatu cerita tersendiri. Apalagi kisah ayah dengan bundanya sangat rumit, mirip kisah sinetron.
“ Bapakmu pancen ngeyel nek dikandani, yo wis piye maneh to,” jawab mbah Kakung.
“ Berarti simbah dulu nggak merestui mereka ya, bayangkan seandainya dulu ayah tidak ngeyel trus nggak ketemu bunda, wah simbah nggak bakal punya cucu secantik aku kan!” bela Monik. Ilham langsung melempar bonggol jagung kearah Monik.
“ Ke pede an banget deh.”
Yang lain juga langsung ketawa mendengar omongan Monik. “ Dasar mbak Monik sableng.”
Lagi asyik-asyiknya bercanda dari arah pintu muncul Laura dengan wajah lelahnya. “ Hi everybody,” sapanya.
“You’re so late, capek?” Tanya kang Ilham yang perhatian banget.
Laura duduk di samping Ilham dan langsung menyandarkan kepalanya di bahu Ilham. “ Yeah, I’m so tired today. Tapi sebentar lagi aku selesai dengan laporan penelitian ini.”
Melihat kemesraan Ilham dan Laura mbah putri langsung geleng-geleng kepala. “ Wis nek kesel yo gek ndang istirahat, Ning diterke neng kamare kono!” suruh mbah putri ke Aning yang langsung mengajak Laura masuk ke kamar yang sudah disiapkan.
Begitu Aning kembali ke ruang keluarga, di belakangnya sudah ada Teddy dengan raut muka jengkel.
“ Dasar, kalau mau pergi pamit dulu kek, bikin orang senewen,” maki Teddy ke Monik.
“ Ah, kamu aja pergi nggak ngasih tahu aku kok, lagian ngapain sih pake nyusul segala,” Monik balik ngeles.
“ Tuh kan mbah, Monik itu ngeyel kalau di kasih tahu.” Teddy mengadu ke simbah.
“ Wis to ra sah ribut, wis wengi, Monik ki yen arep lungo yo pamitan kakangmu sik, ben ora khawatir,” mbah kakung memberikan wejangannya.
“ Lha kowe dhewe seko endhi le?’’ Tanya mbah putri kepada Teddy.
  Teddy menguap. “ Ada proyek di Bandung mbah, aku wis ngantuk iki, aku turu yo mbah,” Teddy pamit dengan cara yang tidak sopan tapi semua juga maklum kalau Teddy tidak biasa bahasa Jawa halus. Sudah gitu Monik juga ikut digandengnya.
“ Tidur ma aku ya Mon.”
“ Dasar manja,” bentak Monik ke kakaknya tapi tetap saja Monik mengikuti langkah Teddy yang lebar-lebar.
Kamar yang dipakai Teddy dan Monik dulu bekas kamar ayah mereka. Ada 2 tempat tidur kecil, sebuah almari kayu, buffet kecil yang entah berisi apa dan beberapa foto ayah mereka saat masih sekolah terpajang di dinding.
Tedy langsung rebah di kasur. “ Gila aku capek banget, dari Bandung langsung ke sini,” keluh Teddy. “ Eh, tadi waktu nyampe aku lihat cewek bule sipa sih Mon?” tanyanya mengganti pembicaraan.
Monik duduk memeluk bantal di tempat tidur satunya lagi. “ Namanya Laura, anak Aussie pertukaran pelajar, itu gebetan kang Ilham, tapi katanya nggak boleh tuh ma budhe.”
“ Pinter juga Ilham itu,” komentar Teddy. “ Tapi berat tuh perjuangannya kalau mau dapetin bule.”
“ Emang kenapa Dung? Seandainya Laura mau mengikuti adat Jawa pasti sama budhe direstui, cuma masalah pendekatan aja to.”
“ Nggak semudah itu Mon, kamu tahu nggak sih siapa budhe itu?”
“ Ibukknya kang Ilham.” Jawab Monik polos.
Teddy langsung melempar bantal kearah Monik. “ Ye.. kalau itu juga semua tahu.”
“ Ya habis nanya kok aneh.”
“ Kamu pasti nggak tahu kan kalau dulu sebenarnya budhe itu rencananya mau dikawinkan sama ayah.”
“ Ha???” Monik setengah menjerit. “ Kok aku baru tahu, gimana ceritanya Dung?”
“ Dulu, ayah ma budhe itu satu sekolah, kemana-mana bersama-sama, trus budhe suka sama ayah. Tapi kan kamu tahu kalau ayah itu punya jiwa seni, dia ingin mengejar mimpinya lewat melukis. Sejak lulus sekolah ayah langsung ke Bali belajar melukis sekaligus mencari kerjaan. Pernah ayah disuruh pulang, dan ternyata mbah kakung itu mau menjodohkan ayah sama budhe karena orang tua budhe sudah kepingin punya cucu. Jelas aja ayah yang waktu itu lagi seneng-senengnya kerja nggak mau menikah dulu, apalagi ayah cuma menganggap budhe itu seperti adiknya sendiri. Sempat ayah diusir sama mbah kakung, trus akhirnya ayah ikut kapal perusahaan asing sampai akhirnya ketemu bunda di Dublin.”
“ Lha trus gimana akhirnya budhe?”
“ Mbah kakung kan jelas nggak enak sama keluarga budhe, trus simbah bicara sama pakdhe Ulin mau nggak menikahi budhe, akhirnya nggak tahu juga ceritanya kok pakdhe Ulin mau menikah sama budhe. Mungkin pada dasarnya pakdhe punya rasa juga.”
Monik geleng-geleng. “ Wah, jangan-jangan budhe masih menyimpan rasa sakit hati ya Dung, tapi budhe baik kok kalau sama aku.”
“ Iya, dulu aja simbah nggak mau mengakui pernikahan ayah sama bunda, baru setelah kamu lahir, melihat ternyata cucunya ada yang berwajah Jawa, akhirnya simbah mulai mencair marahnya. Itulah makanya kamu patut bersyukur kalau kulitmu itu gosong, jangan iri sama aku.” Puji Teddy pada dirinya sendiri. “ Budhe pasti juga merasakan hal yang sama, patah hati pasti jadi bukan hal yang mudah membuat budhe bisa menerima mantu bule.”
Monik mendengarkan dengan serius. “ Karena aku keponakan budhe yang Njawani, kali aku bisa deh bicara sama budhe.”
Teddy merebahkan tubuhnya. “ Ya terserah kamu, dah ah aku ngantuk banget, besok aku masih ada kerjaan.” Dengan cuek Teddy langsung ngorok. Ah dasar.
**************

Hari sudah menjelang siang ketika Monik, Ilham dan Teddy berkumpul di Langgar dekat rumah simbah. Masih membicarakan hubungan Ilham dengan Laura.
 “ Tadi aku sempat ketemu ma budhe kang, mungkin perasaan semua orang tua itu hampir sama, ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. “ Monik mencoba merangkum dari percakapannya dengan budhe tadi pagi.
“ Jadi baikknya gimana ya?” Ilham masih tetap pusing.
“ Heh, dengerin aku nih. Selesaiin dulu kuliah mu yang tinggal skripsi itu. Klo dah gitu kamu kerja nyari duit yang banyak, bahagiain dulu orang tua kamu. Yakin deh habis itu kamu mau ngawinin cewek mana juga boleh.” Teddy bicara seenaknya aja, tapi mungkin sebagian ada yang benar.
“ Dudung ada benarnya, mending kang Ilham namatin kuliah dulu. Kang Ilham kan masih muda, masih banyak hal yang kang Ilham harus lalui. Seiring waktu, asal kang Ilham berusaha semoga hati budhe mencair juga. Bisa jadi kan nanti kang Ilham bertemu lagi dengan gadis yang lebih cantik, lebih baik, lebih segalanya deh.” Sambung Monik.
Ilham manggut-manggut. “ Mungkin kalian ada benarnya, sebaiknya aku menjalani semua ini bersama Laura dengan lebih santai. Seandainya dia memang jodohku aku yakin kita bisa bersama. Aku juga ingin buktikan ke Ibu kalau aku bisa jadi orang yang bertanggung jawab pada orang tuaku juga pada keluargaku kelak.”
“ Syukur deh kalau kang Ilham merasa itu yang terbaik.” Monik menepuk pundak sepupunya itu.
Teddy melompat berdiri. “ Mulane kuliah dirampungke, skripsi aja 4 semester nggak selesai-selesai, payah.” Dia langsung ngeloyor masuk ke rumah.
Ilham cengengesan. “ Iyo yo, aku ni kerjaan ya cuma kuliah tapi nggak kelar-kelar, tapi Teddy itu kuliah disambi nerima proyek disambi maen kemana-mana kok langsung wisuda ya.”
“ Itu karena dia mesti ngidupin aku kang. Jadi semangatnya dobel kuliah jalan, cari duit buat makan oke, hobby traveling lancar.” Monik memang bersyukur karena Kakaknya sangat bertanggung jawab. Walau setiap bulan uang saku selalu dikirim oleh orang tuanya, tapi Dudung tetap cari uang sendiri buat keperluan mereka bersama. Lumayan bisa buat beli tanah, mobil ma investas lain.
“ Eh Mon, kamu balik Jogja sekarang kan?” aku ikut sekalian ya, kebetulan Laura juga ada perlu dikampus. Aku nginap rumahmu aja ya, mau ngetik lanjutan skripsiku.”
Monik tersenyum senang, “ Oke, sana siap-siap, aku juga mau pamitan ma simbah.”
************

 Sore harinya mereka sudah sampai di rumah mereka berdua di Kaliurang, sebelumnya Laura sudah diantar ke asrama. Tinggal Monik sama Ilham memakai mobil Wrangler disusul Teddy yang memakai motor Ducati  supermoto nya.
“ Munah, are you miss me!” teriak Monik didepan pintu memanggil pembantu kesayangannya.
Munah langsung menyambut Monik. “ Mbak lihat siapa yang datang.”
 Dari dalam rumah muncul si hitam manis dan si cantik. Itulah ayah dan bunda Monik dan Teddy yang mendadak datang mengunjungi.
“ Hi honey,” sapa bundanya.
Monik langsung mendekap bundanya. “ Uh, I miss u so much mom.” Keningnya langsung dihujani ciuman dari bundanya. “ Kapan datang?”
“ Tadi pagi. Nggak kangen ma ayah!”
Monik pun langsung bergelanyut manja pada ayahnya.
“ Mirip anak kera tahu.” Ejek Teddy.
“ Nggak apa, berarti kakakku juga kera dong,” Monik langsung cengengesan. Semua pun akhirnya ketawa.
Dalam hati Ilham juga ingin suatu saat nanti jika Laura memang jodohnya, semoga keluarganya sebahagia keluarga sepupunya ini. Walau kadang terpisah jarak tapi mereka tetap akrab seperti keluarga, seperti saudara dan seperti sahabat. Semua dalam satu rengkuhan.
“ Ilham sini masuk,” sambuat bunda Monik.
“ Ya tante.”
Ah, rumah yang hangat.


THE END
DITULIS OLEH RINA RINOT

CERITA CINTA MONIK SARASWATI : DEJAVU I HATE YOU


“ CINTA MONIK “

DEJAVU I HATE YOU

November 11, 2003 my first climb to Merbabu. Ketik Monik di memo Hp nya. Ini merupakan pengalamannya pertama kali naik gunung, tentu dia tidak sendiri, ada 3 bus kopata yang mengangkut anak-anak yang ikut pendakian massal dalam rangka pengenalan Mapala kampus pada mahasiswa baru.
“ Mon, sudah nyampe Kopeng nih!” teriak temannya yang bernama Rahma yang anak Merauke.
Sedang Sinta dan Manda yang sama-sama anak Cilacap masih terlelap tidur.
“ Apa sih teriak-teriak, biasa aja kali Ma,” jawab Monik santai.
Tak kurang dari 15 menit kemudian bus berhenti, semua orang disuruh turun oleh pembimbing Mapala dan dikumpulkan di pinggir jalan.
Seseorang entah siapa namanya dari Mapala menjelaskan kalau perjalanan sore itu dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju camp pertama, perjalanannya kira-kira 1 jam berjalan.
“Alamak 1 jam jalan pa gak semper sikile nyong,” Sinta tampak protes dengan bahasa ngapaknya. “ Gara-gara kamu sih!” Sinta tampak cemberut kepada Monik.
Monik ikut-ikutan monyong “ Halah biasa dirumah macul aja ngapa sih gini aja ribet sekali-sekali jiwa petualang kita harus dipakai dong, udah jalan sono!”
Rahma dan Manda tertawa sambil merangkul sahabat baru mereka memulai perjalanan yang lumayan jauh.
15 menit pertama rasanya menyenangkan saling berkenalan dengan para Mapala yang ganteng dan cantik sambil menikmati jalan yang dibuat dari batu-batu gunung ditata rapi kanan kirinya dipenuhi tanaman sayur seperti kol, wortel dan kentang ditambah aroma dari pupuk kandang yang menyengat. Rumah-rumah penduduk dibuat dari kayu berpagar bambu dengan bunga-bunga dahlia bermekaran dan tebing-tebing batu kokoh menyangga jalan yang semakin menanjak. Adakalanya hutan pinus terpampar luas sejuk dan damai. Rombongan pun tertawa ria bahagia.
15 menit kemudian dan 15 menit setelahnya, yang ada hanya keluh kesah kecapekan dan 15 menit yang tersisa hanya tinggal nafas yang tersengal-sengal diiringi gelap yang mulai merayap. Ada yang masih kuat dan berjalan tanpa henti sedang ada sebagian yang terseok-seok rasanya pengen pulang saja. Begitu juga Manda dan Rahma yang berjalan seperti kelinci energizer tak kenal lelah, sedang Monik berjalan berlahan dan Sinta yang berada dibelakang entah dimana.
“ Capek ya?” sapa seorang anggota Mapala yang berseragam hitam-hitam.
Monik sempat melirik nama di badge nya. Damar. Hanya itu. “ Iya lumayan, masih jauh ya mas?”
“Nggak juga, setelah melewati pinus itu kemudian ada belokan sedikit menanjak dan belok lagi pinus lagi trus lurus nah nanti sampai.”
Monik menatap si Damar dengan sengit. “Halahhhhh, apalah mas ini, mati pingsan aku nanti.”
Dan keajaiban terjadi, Damar tersenyum yang sangat cute, manis banget semanis gulali menambah indah wajahnya yang hitam manis itu dan tiba-tiba ransel Monik diambilnya. “ Sini aku saja yang bawa, ini kan enteng coba kalau kamu yang pingsan kan bawanya berat.”
Monik keki berat sambil menyerahkan ranselnya yang sebenarnya berat karena berisi air minum sampai 5 botol keperluan mandi dan baju ganti, baik banget ya. “Makasih mas, namanya siapa?”
Damar memperlihatkan nama di bajunya. “Kan bisa baca.”
“Ya iya, tapi Damar siapa gitu, Damar Wulan atau Damar Mongso Manggolo atau.....”
“Sembarangan, Damar Jati namaku tapi teman-teman biasa manggil  Jangkrik maklum kulitku kan hitam.”
Monik menggeleng tak setuju. “Siapa bilang hitam, manis gini.”
Damar kembali memperlihatkan senyum nya. “Makasih Mon.”
Monik melongo. “Kok tahu namaku mas?”
“Semua juga tahu namamu, kamu kan beda, begitu masuk kampus semua membicarakan kamu, sudah nanti kalau banyak bicara kamu kehabisan nafas.”
Kemudian Damar berjalan dengan cepat beberapa langkah di depan Monik, tak terkejar hingga rumah warga yang dijadikan camp satu terlihat. Alhamdulillah nyampe juga.
“Mon sini,” panggil Rahma. Sepertinya dia sudah nyampe dari tadi dan duduk manis bareng Manda diteras rumah yang dijadikan camp dengan segelas jahe hangat di tangan. Hmm hangatnya....
“Sinta mana?”
“Belum lihat, sini minum ini dulu,” Manda dengan baik membawakan jahe hangat satu untuk Monik. “Nah itu Sinta!”
Tampak Sinta terseok-seok dan cemberut. “Tega ya ninggalin aku, malah ada yang pacaran lagi, sial kalian ini.”
“Wislah duduk sini,” ajak Manda.
“Iya lagian siapa juga sih yang pacaran, cuma kenalan aja kok, tapi yang namanya Damar cakep juga ya,” Bisik Monik.
“Hmmm ada yang mulai gerilya ni!” ejek Rahma. “Awas ya kalau sampai kenalan ma cowok cakep nggak ngajak-ngajak, mampus kamu.”
Monik menjeb aja sambil menyerutup jahe hangatnya. “Ah udah ah, aku mo mandi dulu kayaknya ada Mushola diatas.”
“Ranselmu mana?”tanya Sinta.
“ Hmm hehehehe dibawa sama Damar,”Monik tersenyum tersipu-sipu.
“Huuu.....” teriak kompak dari Sinta, Rahma dan Manda.
Tanpa memperdulikan ejekan temannya Monik melangkah menuju pemandian yang ada di depan camp, mungkin cuci muka sudah cukup. Apalagi hawa yang dingin begini membuatnya gentar untuk bermain air.
“Hi Mon,” sapa seseorang yang berseragam hitam juga. “Mo mandi ya?”
Monik tersenyum sopan, sambil heran kok Mapala pada tahu namanya ya. “ Iya mas, masnya sudah mandi?”
“Sudah dari tadi, sekarang sudah gelap mending kamu nggak usah mandi nanti masuk angin,”sarannya. “ O ya, namaku Tio Badak, inget-inget ya.”
“ O iya, eh mas, nanti naik jam berapa?”
“ Habis Isya mungkin, lihat situasi aja nanti, yuk aku balik dulu.” Belum  lama si Badak balik badan lagi. “ Eh baiknya kamu nanti bareng sama cewek-cewek yang lain, jangan berdua-duaan ya.”
Monik kembali tersenyum sopan. “ Iya mas. “
Yang namanya Tio Badak lumayan juga walau tak semanis Damar tapi kenapa mesti pakai pesan sponsor gitu sih nggak boleh dua-duaan, ih kenapa juga gitu. O iya Monik juga baru tahu ternyata anggota Mapala memiliki nama julukan dan namanya unik-unik dan masing-masing ada cerita dibalik nama-nama unik itu.
Setelah membasuh muka dan menjalankan kewajibannya, Monik berkumpul sebentar dengan teman-temannya, kemudian dia mulai bingung mencari Damar yang membawa ranselnya. Ternyata cowok itu berkumpul di ruang belakang bersama Mapala yang lain, mungkin sedang briefing walau suasananya lumayan santai.
“Maaf mengganggu, cuma mau ambil ransel saja.” Monik merasa sungkan.
“Nah sini!” tiba-tiba Tio menarik tangannya hingga terduduk disampingnya. “ Nggak papa gabung aja ma kita.”
Monik semakin sungkan, kenapa tiba-tiba Tio sok dekat begini. Diliriknya Damar yang hampir tak melihat kepadanya. Ahh gara-gara Tio nih.
Setelah mendengarkan perbincangan mereka yang rata-rata hanya guyon saja, Monik permisi keluar. Nggak ada gunanya duduk lama-lama jika Damar tak mengajaknya bicara.
“ Hi Mon.” Sapa Mapala yang lain lagi. “ Jangan pergi dulu, kita sudah hampir berangkat kok.”
“ O ya mas, saya tungggu di luar.”
Mapala itu mengikuti Monik, “ Nanti dibagi pergrup lho, kamu ikut grup ku aja ya.”
“ Terserah aja mas.”
“ E panggil aku Widi, panggilan kerennya Obat.”
“Hehehehe.... iya mas Obat, kok tahu namaku sih mas?”
“ Dikalangan Mapala kamu sudah lumayan dikenal, produk asing sih, mudah dikenali”
Monik manyun, mungkin karena dia agak berbeda dengan badannya yang bongsor, rambut coklat karena separo bule membuat dia mudah dikenali. “ O gitu”
“Sudah siap-siap aja didepan nanti kita bagi dalam 7 grup berisi 10 orang ya.”
“ Oke mas.”
Setelah dibagi dan diumumkan siapa pendamping grup, akhirnya pukul 8 lebih sedikit grup 1 mulai berangkat dan 15 menit kemudian disusul grup 2. Sedang Monik yang grup 4 terpisah dari teman-temannya yang berbeda-beda grup. Dan benar saja yang namanya Widi Obat menjadi leader grupnya, sedang Damar nggak kelihatan mungkin sudah pergi sedari tadi masih dengan membawa ranselnya. Padahal hawa sangat dingin dan jaket cadangannya ada di dalam ransel. Walau agak kesal tapi yang penting sampai puncak pas sunrise aja.
Suasana yang gelap membuat Monik tak peduli siapa yang tertinggal dan siapa yang didepannya, dia hampir tidak menikmati perjalanan itu karena sama sekali tak bisa menikmati pemandangan yang ada, hanya lampu senter dari arah belakang yang membimbingnya.
Entah sudah berapa kilo dan berapa jam dia berjalan, sepertinya tidak akan berakhir saja, kakinya serasa pengen ditinggal dirumah saja karena sudah sangat capek, nafasnya tersengal-sengal tanpa bekal air, ah mana ranselnya. Tiba-tiba ada yang memberinya botol mineral dari arah belakang. “ Makasih,” tanpa menunggu jawaban Monik langsung meminum hampir separo.
“ Kalau tidak kuat bilang dong!”
Cahaya lampu senter itu kemudian berjalan didepannya dan langsung menggandeng tangan Monik, ah tidak lebih tepatnya menyeret badan Monik agar terus berjalan. “Kalau berhenti terlalu lama nanti kamu kedinginan. Jaketmu di dobel saja.” Kemudian dia mengambil jaket dari ransel dan memakaikannya pada badan Monik. Pas banget. Ya iyalah itu kan jaketnya, itu ranselnya, itu juga air mineralnya. Ternyata Damar Jangkrik sedari tadi ada dibelakangnya.
“ Mas Damar, makasih. Aku sudah hampir mati kehausan ni, kemana aja si?”
“ Ada, tapi kata anak-anak aku harus 100 meter jaraknya sama kamu.”
Monik mengernyit. “ Apa maksudnya mas, apa kamu mahluk yang berbahanya?”
Damar tertawa renyah, sayang sekali semuanya serba gelap jadi Monik tidak bisa menikmati senyuman manis itu. “ Mereka cemburu kali.”
“ Memang mas Damar naksir aku apa, kok mesti dicemburui?”
Damar diam saja tak ingin menjawabnya. Dia mulai berjalan sambil membimbing Monik, melewati jembatan setan melewati hempasan angin dingin dan melalui bintang-bintang jatuh dari langit dengan genggaman tangannya yang hangat mengusir dingin yang ada. Makasih sekali lagi ya mas.
Hampir pukul 4 pagi saat tiba di puncak Syarif. Untuk menunggu sunrise kebanyakan pada mendirikan tenda untuk tidur sebentar atau bersembunyi di balik sleeping bagnya. Dan Damar memisahkan diri, bergabung dengan teman Mapalanya yang lain. Monik berkumpul lagi dengan teman-temannya dan tidur dengan belalaskan matras berselimut langit.
 Pukul 5 pagi mereka dibangunkan. Perjaklanan dimulai lagi menuju Kenteng Songo. Yang ditunggu pun datang, menakjubkan melihat sunrise di puncak Kenteng Songo walaupun jalan menuju puncak ini sangat sulit karena lebarnya hanya berkisar 1 meter dengan terpaan angin yang kencang. Dan mitosnya di puncak ini terdapat batu lumpang atau kenteng berjumlah sembilan. Inilah indahnya alam ciptaan Tuhan. Sunrise dibalik gunung-gunung yang bertumpuk.  Dari puncak Kenteng songo kita dapat memandang Gn.Merapi dengan puncaknya yang mengepulkan asap setiap saat, nampak dekat sekali. Ke arah barat tampak Gn.Sumbing dan Sindoro yang kelihatan sangat jelas dan indah, seolah-olah menantang untuk di daki. Lebih dekat lagi tampak Gn.Telomoyo dan Gn.Ungaran. Dari kejauhan ke arah timur tampak Gn.Lawu dengan puncaknya yang memanjang. Amazing.
Monik, Rahma, Manda, Sinta dan 70an  peserta yang lain takjub dengan pesona Merbabu.
“Kamu suka!” sapa Damar yang sudah ada dibelakang Monik dengan tiba-tiba.
Monik tersenyum bahagia, benar-benar perjalanan yang tak sia-sia. Ini sangat membuat kecanduan. “ Yeah.... i love it.”
Damar memandang Monik sedikit terkejut. “ Semua gunung itu ingin kau daki tidak?”
“ Pasti, satu demi satu aku ingin sampai ke puncaknya, mau menemaniku?”
Cowok itu tersenyum. “ Pasti akan jadi suatu impian indah jika aku bisa pergi sama kamu ya.” kemudian mulai berjalan menjauh.
“ Kemana?”
“ Aku turun dulu, kamu disini saja foto-foto dulu, sama teman-temanmu.”
“ Tunggu mas!”
Damar memalingkan mukanya. “ Ada apa?”
“ Kenapa tidak?”
“ Apa?”
“ Pergi bersamaku kesana.” Tunjuk Monik kearah gunung-gunung yang menjulang tinggi itu.
“ Mimpi bukan relitas kan Mon, sudahlah nikmati puncak ini. Aku ingin tidur sebentar di Syarif ya.”
Monik tersenyum setuju, walau dia berharap Damar ada disampingnya saat di foto. Bagaimanapun ini moment indah yang dia tak ingin dilewati tanpa sahabatnya. Rahma, Manda dan Sinta. “Come on lady, we take picture, this moment forever...”
Akhirnya matahari mulai merayap naik, Rahma mengusulkan untuk turun karena perutnya mulai kelaparan.
“ Kira-kira kita dikasih makan nggak nih?”
“ Tadi aku dengar Mapala menyediakan kompor parafin untuk masak dan mie instan plus susu buat yang mau. “ kata Manda.
“ Weh enak kui ra.” Sinta kelihatan nggak sabar.
“ Ayuk.” Ajak Monik yang turun diikuti teman-temannya.
Di puncak Syarif beberapa tenda yang didirikan penuh oleh mereka yang kelelahan, ada juga yang tidur diluar dengan sleeping bagnya dan beberapa orang lainnya sedang memasak bergantian. Yang menarik adalah bau mie instan, hmm yummy.
“ Mon sini.” Panggil Widi Obat.
Monik mendekati Widi yang sibuk membuat mie.
“ Sudah jadi, ini buat kamu.”
Monik menerima piring alumunium dari Widi dengan heran, kok baik banget sih. “ Lho mas kan belum makan?”
“Halah lapar sudah biasa buat kita, kamu makan saja yang ini nanti buat aku.”
“Wah makasih ya mas, jadi merepotkan.”
“Tidak juga, tapi temani aku masak ya,” pinta Widi. “ Nggak papa kan kamu disini ma aku, jangan dekat Jangkrik terus dong.”
Monik tersenyum. “ Iya, lagian kenapa sih pada sirik klo aku dekat mas Damar.”
“Jelas bahaya,” tiba-tiba Tio ikut nimbrung. Tidak hanya nimbrung bicara juga nimbrung makan mie instan Monik.
“ Heh ra sopan.” Maki Widi.
Tio tertawa saja. “ Ngelih Bat. Sori Mon, laper nih.”
“ Nggak papa nyantai aja mas, “ jawab Monik ikhlas.
“ Kalau mo gabung sama kita-kita aja yang masih jelas orangnya, jangan sama Jangkrik nanti ketularan item lho.”
Widi tertawa mendengar kalimat Tio.
“ Mas Tio ki ngawur.” Kata Monik jengkel. “ Manis gitu dibilang item.”
“ Nah justru itu, orang ngganteng jauh lebih berbahanya daripada orang jelek. Ya nggak Bat.”
Tio minta persetujuan Widi.
“ Yoa.” Jawab Widi.
“ Ihh ngawur semua ya, “ Monik tambah cemberut. “ Udah ah, udah kenyang nih, makasih mie nya ya.”
“ Mon, jangan marah dong!” panggil Tio saat Monik mulai berjalan menjauh.
“ Nggak mungkin marah sama kalian kok, makasih sarannya ya orang jelek.”
Widi dan Tio terdengar tertawa mendengar sindiran dari Monik.
Mereka hanya menyarankan sesuatu yang tak pernah disadari Monik. Mungkin itu hanya candaan saja. Semua tak berarti, yang ingin didengar dan dilihat hanya Damar saja.
Kira-kira 1 jam setelah itu, semua peserta diminta untuk turun kembali ke camp satu, disana bisa melanjutkan istirahat atau mandi dan makan sebelum kembali pulang ke Jogjakarta.
Dan saat turun dari puncak hampir sama indahnya karena kali ini dapat melihat dengan jelas padang-padang rumput dan edelweis juga bukit-bukit yang diselimuti bunga dan pohon-pohon pinus besar. Semuanya indah seindah perjalanannya bersama Damar Jangkrik.


2#
September 29, 2010. Kuta Karnival sedang berlangsung, hari ini disepanjang jalan Kuta ada parade seperti karnaval pada umumnya. Dengan baju adat penuh warna, badut badut dan tarian tradisional.
Dan Monik disana, termangu tidak peduli Munah si pembokatnya bicara nyerocos.  Dia seperti pernah berdiri disini seperti saat ini, dikerumunan dengan suasana yang sama. Ada sesuatu yang aneh di dadanya.
" Mun, tahun lalu kita liat Kuta Karnival juga ya?" tanya Monik mengingat-ingat.
" Nggak ah mbak, mbak Monik itu naik Semeru bareng  mas Dudung  sak konco to, baru kali ini aja mbak Monik ngajak aku nonton karnaval di Kuta. " Munah yakin sekali dengan jawabannya.
Monik manggut-manggut. Mungkin hanya perasaanya saja.
Tanpa sengaja Monik menatap pada satu arah di seberang jalan didepan kafe matanya yang terhalang kerumunan orang yang lalu lalang tak akan salah. Dia itu disana, Damar Jati, Damar Jangkrik yang pernah dipujanya, Damar yang ternyata tak bisa menampik pesonanya dikala dia telah memiliki pasangan. Kenapa waktu itu Monik tak sadar jika sikap pendiam Damar karena ingin mengerem perasaannya sendiri, Monik terlambat tahu jika Tio, bahkan Widi bermaksud untuk menjauhkannya dari mahluk manis itu. Monik benci ingatan 7tahun lalu kembali hadir seperti slide yang berjalan cepat, saat Damar memeluknya dan mencium keningnya dan bilang dia sangat ingin mencintai Monik saat dia bilang seandainya saja dia bisa. Dan saat dia pergi  saat pendakian itu selesai. Damar jarang terlihat di kampus, teman Mapala nya bilang Damar pindah kuliah ke Universitas di Surabaya. Saat mereka bilang Damar sudah menikah, saat Tio dan Widi bilang seandainya saja mereka mencegah Monik untuk mengenal Damar lebih jauh. Dan semuanya terlambat saat Monik telah memberikan secuil hatinya untuk Damar, untuk seorang pendaki yang tak sempat menemaninya melakukan pendakian gunung-gunung yang dulu hanya jadi khayalan itu satu persatu, dan sekarang laki-laki itu berdiri disana bersama seorang perempuan dan anak laki-laki kecil.
Kenapa dadanya berdegup lebih kencang tapi menyakitkan. Desirannya menyesakkan. Sungguh Monik membenci kenangan ini karena terlalu sakit untuk sesuatu yang tak pernah terwujud.

The end

 #cerita ini hanya fiktif belaka jika ada kesamaan nama karena saya sengaja meminjam nama dari teman Mapala...heheheh Makasih!!!! 
Ditulis oleh Rina Rinot